PENDEKATAN TEMATIK DAN IMPLEMENTASI DALAM PEMBELAJARAN
PKN SD
Makalah
Disusun untuk melengkapi tugas mata kuliah
Pengembangan Pembelajaran Pkn SD
Dosen: Dr. Dirgantara Wicaksono. M.Pd
Oleh :
Lulu Irianti 2015820031
PROGRAM
STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
MUHAMMADIYAH JAKARTA
2017
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis ucapkan atas kehadiran Allah SWT, karena berkat Rahmat dan Karunia-Nya penulis dapat
menyelesaikan tugas Pengembangan Pembelajaran
Pkn SD. Banyak kesulitan dan hambatan
yang penulis hadapi dalam membuat tugas ini tetapi dengan semangat dan
kegigihan penulis mampu menyelesaikan tugas ini dengan baik, Penulis berharap
semoga dengan disusunnya makalah ini dapat memberikan pengetahuan bagi para
pembaca.
Cirendeu, 03 Agustus 2017
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.................................................................................... !
DAFTAR ISI................................................................................................... !!
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah............................................................................ ..2
C. Maksud dan Tujuan.......................................................................... .2
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Pendekatan Pembelajaran Tematik .......................... 3
B. Ciri-ciri
Pembelajaran Tematik...................................................... .......4
C. Peran dan Pemilihan Tema dalam Pembelajaran Tematik........ ..........6
D. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran tematik.. .........7
E. Keunggulan dan Keuntungan
Pembelajaran Tematik...................................................................... ..7
F. Implementasi
Pendekatan Tematik dalam
Pembelajaran
Pkn SD...................................................................... ...8
G. Model-model pembelajaran
tematik................................................ 8.
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan......................................................................................... 11
B. Saran.................................................................................................... 11
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................... 12
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Keputusan dalam suatu pembelajaran sangat diperlukan pendekatan pembelajaran yang
mendukung suatu keberhasilan dari proses belajar agar dapat tercapai tujuan
pembelajaran yang baik dan mendapat hasil belajar sesuai yang kita inginkan.
Kalau dilihat dari kurikulum 2013, maka pendekatan pembelajaran yang sesuai
adalah pendekatan tematik, karena proses pembelajaran harus memiliki
keterkaitan dengan mata pelajaran lain.
Pendekatan tematik merupakan pendekatan yang dibutuhkan saat ini.
Pembelajaran tematik merupakan suatu pendekatan dalam pembelajaran suatu proses
untuk mengaitkan dan memadukan materi ajar dalam suatu mata pelajaran atau
antar mata pelajaran dengan semua aspek perkembangan anak, serta kebutuhan dan
tuntutan lingkungan social keluarga.
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan pendekatan tematik?
2. Apa ciri – ciri dari pendekatan tematik?
3. Bagaimana peran dan pemilihan tema dalam pembelajaran tematik?
4. Apa hal – hal yang diperhatikan dalam pembelajaran tematik?
5. Seperti apa keunggulan dan kelemahan pembelajaran tematik?
6. Bagaimana implementasi pendekatan tematik dalam
pembelajaran PKn SD?
7. Apa model – model pembelajaran tematik?
C. Maksud dan Tujuan
1. Mengetahui maksud pendekatan tematik.
2. Mengetahui ciri – ciri pendekatan tematik.
3. Mengetahui peran dan pemilihan tema dalam pembelajaran tematik.
4. Mengetahui hal – hal yang diperhatikan dalam pembelajaran tematik.
5. Mengetahui keunggulan dan kelemahan pembelajaran tematik.
6. Mengetahui implementasi pendekatan tematik dalam
pembelajaran Pkn SD.
7. Mengetahui model – model pembelajaran tematik dan
model-model pembelajaran terpadu
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Pendekatan Pembelajaran Tematik
Pembelajaran tematik berasal dari kata integrated teaching and learning
atau integrated curriculum approach yang konsepnya telah lama dikemukakan oleh
Jhon dewey sebagai usaha mengintegrasikan perkembangan dan pertumbuhan siswa
dan kemampuan perkembangannya ( Beans, 1993 ; udin sa’ud dkk, 2006 ). Jacob
(1993) memandang pembelajaran tematik sebagai suatu pendekatan kurikulum
interdisipliner (integrated curriculum approach). Pembelajaran tematik
merupakan suatu pendekatan dalam pembelajaran suatu proses untuk mengaitkan dan
memadukan materi ajar dalam suatu mata pelajaran atau antar mata pelajaran
dengan semua aspek perkembangan anak, serta kebutuhan dan tuntutan lingkungan
social keluarga.
Definisi lain tentang pendekatan tematik adalah pendekatan holistic, yang
mengkombinasikan aspek epistemology, social, psikologi, dan pendekatan
pedagogic untuk mendidik anak, yaitu menghubungkan antara otak dan raga, antara
pribadi dan pribadi, antara individu dan komunitas, dan antara domain-domain
pengetahuan ( Udin Sa’ud dkk, 2006 ) Wolfinger ( 1994:133 ) mengemukakan dua
istilah yang secara teoritis memiliki hubungan yang sangat erat, yaitu
integrated curriculum (kurikulum tematik) dan intregated learning (pembelajaran
tematik). Kurikulum tematik adalah kurikulum yang menggabungkan sejumlah disiplin
ilmu melalui pemaduan isi, ketrampilan, dan sikap. Perbedaan yang mendasar dari
konsepsi kurikulum tematik dan pembelajaran tematik terletak pada perencanaan
dan pelaksanaannya. Idealnya, pembelajaran tematikseharusnya bertolak pada
kurikulum tematik, tetapi kenyataan menunjukan bahwa banyak kurikulum
yangmemisahkan mata pelajaran yang satu dengan lainnya (separated subject
curriculum) menuntut pembelajran yang sifatnya tamatik (integrated learning).
Pembelajaran tematik merupakan suatu pendekatan yang berorientasi pada
praktik pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan perkembangan anak.
Pembelajaran ini berangakat dari teori pembelajaran yang menolak proses
latihan/ hafalan (drill) sebagai dasar pembentukan pengetahuan dan struktur
intelektual anak. Teori belajarini dimotori oleh para tokoh psikologi Gestalt,
(termasuk teori Piaget) yang menekankan bahwa pembelajaran itu haruslah
bermakna dan menekankan juga pentingnya program pembelajaran yang berorientasi
pada kebutuhan perkembangan anak.
B. Ciri-ciri Pembelajaran Tematik
Pembelajaran
tematik memiliki ciri-ciri atau karakteristik sebagai berikut
1) berpusat pada siswa,
2) Memberikan pengalaman langsung kepada siswa,
3) Pemisahan mata pelajaran tidak begitu jelas,
4) Menyajikan
konsep dari berbagai mata pelajaran dalam suatu
proses pembelajaran,
5) Bersifat fleksibel,
6) Hasil
pembelajaran dapat berkembang sesuai dengan minat, dan
kebutuhan siswa. Agar diperoleh gambaran yang lebih jelas
tentang karakteristik tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:
1.
Berpusat pada siswa
Proses
pembelajaran yang dilakukan harus menempatkan siswa sebagai pusat aktivitas dan
harus mampu memperkaya pengalaman belajar. Pengalaman belajar tersebut
dituangkan dalam kegiatan belajar yang menggali dan mengembangkan fenomena alam
di sekitar siswa.
2.
Memberikan pengalaman langsung kepada siswa
Agar
pembelajaran lebih bermakna maka siswa perlu belajar secara
langsung dan mengalami sendiri. Atas dasar ini maka guru perlu menciptakan
kondisi yang kondusif dan memfasilitasi tumbuhnya pengalaman yang bermakna.
3. Pemisahan mata
pelajaran tidak begitu jelas
Mengingat
tema dikaji dari berbagai mata pelajaran dan saling keterkaitan maka
batas mata pelajaran menjadi tidak begitu jelas.
4. Menyajikan
konsep dari berbagai mata pelajaran dalam suatu proses pembelajaran.
5. Bersifat fleksibel
Pelaksanaan
pembelajaran tematik tidak terjadwal secara ketat antar mata pelajaran.
6.
Hasil pembelajaran dapat berkembang sesuai dengan minat,
dan kebutuhan
siswa.
Sehubungan
dengan hal tersebut diungkapkan pula karakteristik pembelajaran tematik sebagai
berikut:
1) pembelajaran berpusat pada
anak,
2) menekankan pembentukan
pemahaman dan kebermaknaan,
3) belajar melalui
pengalaman langsung,
4) lebih memperhatikan
proses daripada hasil semata,
5) sarat dengan muatan
keterkaitan.
C. Peran dan Pemilihan Tema dalam
Pembelajaran Tematik
Tema dalam
pembelajaran tematik memiliki peran antara lain:
1. Siswa lebih mudah memusatkan perhatian pada satu tema
atau topik
tertentu.
2. Siswa dapat mempelajari pengetahuan dan mengembangkan
berbagai kompetensi
mata pelajaran dalam tema yang sama.
3. Pemahaman terhadap materi pelajaran lebih
mendalam dan
berkesan
4. Kompetensi berbahasa bisa dikembangkan lebih baik
dengan
mengaitkan mata
pelajaran lain dan pengalaman pribadi siswa.
5. Siswa lebih merasakan manfaat dan makna belajar karena
materi
disajikan dalam konteks tema yang jelas.
6. Siswa lebih bergairah belajar karena mereka bisa
berkomunikasi
dalam situasi yang nyata.
7. Guru dapat menghemat waktu karena mata pelajaran yang
disajikan
secara terpadu dapat dipersiapkan sekaligus dan diberikan dalam 2 atau 3 kali.
Pemilihan tema
dalam pembelajaran tematik dapat berasal dari guru dan siswa. Pada umumnya guru
memilih tema dasar dan siswa menentukan unit temanya. Tema juga dapat
dipilih berdasarkan pertimbangan konsensus antar siswa.
D. Hal-hal
yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran tematik
Ada beberapa
hal yang perlu dipertimbangkan dalam pembelajaran tematik, yaitu:
1. Pembelajaran tematik dimaksudkan agar pelaksanaan
kegiatan
pembelajaran lebih bermakna dan utuh.
2. Dalam pelaksanaan pembelajaran tematik perlu
mempertimbangkan
alokasi waktu untuk setiap topik, banyak sedikitnya bahan yang tersedia di
lingkungan.
3. Pilihlah tema yang terdekat dengan siswa.
4.
Lebih mengutamakan kompetensi dasar yang akan dicapai
dari pada tema.
E.
Keunggulan dan kekurangan
Pembelajaran Tematik
Pelaksanaan
pembelajaran tematik memiliki beberapa keuntungan dan juga kelemahan yang
diperolehnya. Keuntungan yang dimaksud yaitu:
1. Menyenangkan karena bertolak dari minat dan kebutuhan
siswa
2. Pengalaman dan kegiatan belajar relevan dengan tingkat
perkembangan
dan kebutuhan siswa.
3. Hasil belajar akan bertahan lebih lama karena lebih
berkesan
dan bermakna.
4. Menumbuhkan keterampilan sosial, seperti bekerja sama,
toleransi, komunikasi, dan tanggap terhadap gagasan orang lain.
Pembelajaran tematik
di samping memiliki beberapa keuntungan sebagaimana dipaparkan di atas, juga
terdapat beberapa kekurangan yang diperolehnya. Kekurangan yang ditimbulkannya
yaitu:
1. Guru dituntut memiliki keterampilan yang
tinggi
2.
Tidak setiap guru mampu mengintegrasikan kurikulum
dengan
konsep-konsep yang ada dalam mata pelajaran secara tepat.
F.
Implementasi Pembelajaran Tematik di Sekolah Dasar dalam
pembelajaran pkn sd
Dalam pelaksanaan pembelajaran PKn melalui pendekaatan tematik antara lain sebagai berikut
;
1).
Rancangan pembelajaran, dalam
tahap ini guru PKn menyiapkan media
pembelajaran tematik yang berupa gambar-gambar yang berhubungan dengan tema
yang akan diajarkan kepada siswa. Dengan demikian, guru hanya tinggal
menentukan tema penghubung antar mata pelajaran berdasar kesamaan indikator
pencapaian dari masing-masing kompetensi dasar. Estela itu guru membuat RPP
pembelajaran tematik,
2). Pelaksanaan pembelajaran,guru harus lebih kreatif
dalam
mengelola
pembelajaran. Hal ini dikarenakan pengalaman guru sangat penting dalam
pengelolahan pembelajaran. Selain itu media yang dipakai juga harus bervariasi
sehingga dapat mengelola proses pembelajaran dengan baik.
G.
Model-Model Pembelajaran Tematik
Cara pengemasan pengalaman belajar yang dirancang guru sangat berpengaruh
terhadap kebermaknaan belajar bagi siswa. Pengalaman belajar yang menunjukan
keterkaitan unsur – unsur konseptual menjadikan pembelajaran lebih efektif.
Perolehan keutuhan belajar, pengetahuan, dan kebulatan pandangan tentang
kehidupan nyata hanya dapat direfleksikan melalui pembelajaran tematik
(terpadu) (William dalam Udin Sa’ud, 2006). Ditinjau dari cara memadukan
konsep, keterampilan, topik dan unit tematisnya, Forgaty(1991) mengemukakan
bahwa ada sepuluh cara atau model dalam merencanakan pembelajaran tematik :
1. Model penggalan ( fragmented ) memisah-misahkan
disiplin
ilmu atas mata
pelajaran-mata pelajaran, seperti matematika, bahasa Indonesia, IPA, dan
sebagainya.
2. Model keterhubungan (Connected) dilandasi oleh
anggapan
bahwa
butir-butir pembelaaajaran dapat dipayungkan pada induk mata pelajaran
tertentu.
3. Model sarang (Nested) merupakan pemaduan bentuk
penguasaan
konsep ketrampilan melalui sebuah kegiatan pembelajaran.
4. Model urutan / rangkaian (Sequenced) merupakan model
pemaduan topic-topik
antar mata pelajaran yang berbeda secara pararel.
5. Model bagian (Shared) merupakan pemaduan pembelajaran
akibat
adanya”overlapping”konsep atau ide pada dua mata pelajaran atau lebih.
6. Model jarring laba-laba (Webbed) model ini bertolak
dari
pendekatan
tematis sebagai pemadu bahan dan kegiatan pembelajaran.
7. Model galur (Thereaded) merupakan model pemaduan
bentuk
Keterampilan.
8. Model ketematikan (Integrated) merupakan pemaduan
sejumlah topic
dari mata pelajaran yang berbeda, tetapi esensinyasama dalam sebuah topic
tertentu.
9. Model celupan (Immerrsed) model ini dirancang untuk
membantu siswa
dalam menyaring dan memadukan berbagai pengalaman dan pengetahuan dihubungkan
dengan pemakaiannya.
10. Model jaringan (Networked) merupakan model pemaduan
pembelajaran
yang mengandalkan kemungkinan, pengubahan konsepsi, bentuk pemecahan masalah,
maupun tuntutan bentuk ketrampilan baru setelah siswa mengadakanstudy
lapangandalam situasi, kondisi maupun konteks yang berbeda-beda.
F.
Model-model Pembelajaran
Tematik
1. The Nested Model (Model
Tersarang)
Model Sarang (Nested) adalah model pembelajaran terpadu yang target
utamanya adalah materi pelajaran yang dikaitkan dengan keterampilan berfikir
dan keterampilan mengorganisasi. Artinya memadukan aspek kognitif, afektif dan
psikomotorik serta memadukan keterampilan proses, sikap dan komunikasi. Model
ini masih memfokuskan keterpaduan beberapa aspek pada kemudian dilengkapi
dengan aspek keterampilan lain. model ini dapat digunakan bila guru mempunyai
tujuan selain menanamkan konsep suatu materi tetapi juga aspek keterampilan lainnya
menjadi suatu kesatuan. Dengan menggabungkan atau merangkaikan
kemampuan-kemampuan tertentu pada ketiga cakupan tersebut akan lebih mudah
mengintegrasikan konsep-konsep dan sikap melalui aktivitas yang telah
terstruktur.
2.
The Fragmented Model ( Model Fragmen)
Model Penggalan (Fragmented) adalah model pembelajaran konvensional
(umumnya) yang terpisah secara mata pelajaran. Hal ini dipelajari siswa tanpa
menghubungkan kebermaknaan dan keterkaitan antara satu pelajaran dengan
pelajaran lainnya. Setiap mata pelajaran diajarkan oleh guru yang berbeda dan
mungkin pula ruang yang berbeda. Setiap mata pelajaran memiliki ranahnya
tersendiri dan tidak ada usaha untuk mempersatukannya. Setiap mata pelajaran
berlangsung terpisah dengan pengorganisasian dan cara mengajar yang berbeda
dari setiap guru.
3.
The Sequenced Model ( Model Terurut)
Model Pengurutan (Sequenced) adalah model pembelajaran yang topic
atau unit yang disusun kembali dan diurutkan sehingga bertepatan pembahasannya
satu dengan yang lainnya. Misalnya dua mata pelajaran yang berhubungan
diurutkan sehingga materi pelajaran dari keduanya dapat diajarkan secara
paralel. Dengan mengurutkan urutan topic-topik yang diajarkan, tiap kegiatan
akan dapat saling mengutamakan karena tiap subjek saling mendukung.
4.
The Shared Model ( Model Terbagi)
Model Irisan (Shared) adalah model pembelajaran terpadu yang
merupakan gabungan atau keterpaduan antara dua mata pelajaran yang saling
melengkapi dan di dalam perencanaan atau pengajarannya menciptakan satu focus
pada konsep, keterampilan serta sikap. Penggabungan antara konsep pelajaran,
keterampilan dan sikap yang saling berhubungan satu dengan yang lainnya
dipayungi dalam satu tema. Model ini berbeda dengan model sarang, dimana tema
memayungi dua mata pelajaran, aspek konsep, keterampilan dan sikap menjadi
kesatuan yang utuh. Sedangkan pada model sarang, sebuah tema hanya memayungi
satu pelajaran saja.
5.
The Threaded Model (Model Pasang Benang)
Model Bergalur (Threaded) adalah model pembelajaran yang memfokuskan
pada metakurikulum yang menggantikan atau yang berpotongan dengan inti materi
subjek. Misalnya untuk melatih keterampilan berfikir (problem solving)
dari beberapa mata pelajaran dicari materi yang merupakan bagian dari problem
solving. Seperti komponen memprediksi, meramalkan kejadian yang sedang
berlangsung, mengantisipasi sebuag bacaan, hipotesis laboratorium dan
sebagainya. Keterampilan-keterampilan ini merupakan dasar yang saling
berkaitan. Keterampilan yang digunakan dalam model ini disesuaikan pula dengan
perkembangan usia siswa sehingga tidak tumpang tindih.
6.
The Immersed Model (Model Terbenam)
Model Terbenam (Immersed) adalah model pembelajaran yang melibatkan
beberapa mata pelajaran dalam satu proyek. Misalnya seorang mahasiswa yang
memperdalam ilmu kedokteran maka selain Biologi, Kimia, Komputer, juga harus
mempelajari fisika dan setiap mata pelajaran tersebut ada kesatuannya. Model
ini dapat pula diterapkan pada siswa SD, SMP, maupun SMU dalam bentuk proyek di
akhir semester.
7.
The Networked Model (Model Jaringan)
Model Jaringan Kerja (Networking) adalah model pembelajaran berupa
kerjasama antara siswa dengan seorang ahli dalam mencari data, keterangan, atau
lainnya sehubungan dengan mata pelajaran yang disukainya atau yang diminatinya
sehingga siswa secara tidak langsung mencari tahu dari berbagai sumber. Sumber
dapat berupa buku bacaan, internet, saluran radio, TV, atau teman, kakak,
orangtua atau guru yang dianggap ahli olehnya. Siswa memperluas wawasan
belajarnya sendiri artinya siswa termotivasi belajar karena rasa ingin tahunya
yang besar dalam dirinya.
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Model pembelajaran tematik merupakan pendekatan pembelajaran yang
menunjukan kaitan unsure-unsur konseptual baik didalam maupun antar mata
pelajaran, untuk memberi peluang bagi terjadinya pembelajaran yang efektif dan
untuk memberikan pengalaman yang bermakna bagi anak.
Pembelajaran tematik sebagai pendekatan baru merupakan seperangkat wawasan
dan aktifitas berpikir dalam merancang butur-butir pembelajaran yang ditujukan
untuk menguntai tema, topic maupun pemahaman dan ketrampilan yang diperoleh
siswa sebagai pembelajaran secara utuh dan padu. Atau dengan pengertian lain
pembelajaran tematik adalah suatu pendekatan pembelajaran yang menghubungkan,
merakit atau menghubungkan sejumlah konsep dari berbagai mata pelajaran yang
beranjak dari suatu tema tertentu sebagai pusat perhatian untuk mengembangkan
pengetahuan dan ketrampilan siswa secara stimulan.
B.
Saran
Untuk meningkatkan mutu dan proses pembelajaran sesuai yang di canangkan
pemerintah, maka diharapkan kepada semua pihak yang terkait dalam lembaga
pendidikan, agar dapat menerapkan pendekatan tematik di sekolah yang di
ajarnya. Agar pendekatan tematik terlaksana sesuai dengan yang diharapkan, maka
diminta kepada guru untuk mempelajari dengan baik mengenai pendekatan tematik
secara mendalam.
DAFTAR PUSTAKA
Sutirjo dan Sri
Istuti Mamik, Tematik:
Pembelajaran Efektif dalam Kurikulum 2004, Bayumedia Publishing, Malang, 2005
Tidak ada komentar:
Posting Komentar